Alasan Saya Tidak Memilih Mobil Cina & Listrik, Meskipun Murah Dan Menarik

Ketika di jalanan, ataupun pergi ke mall, saya dikejutkan dengan beberapa merk baru yang sudah mengaspal dengan desain yang menurut saya mudah diterima di mata orang Indonesia. Sebut saja merk Chery, Jaeccoo, Denza, BYD, dan teman-temannya. Mereka adalah mobil Cina yang sudah mulai viral di Indonesia dan digadang-gadang membuat mobil Jepang seperti Toyota, Honda, dan Suzuki ketar-ketir.

Saya yang tertarik dengan otomotif (karena saya bekerja di perusahaan otomotif) selalu mencari tahu tentang update-update dunia ini. Saya simpulkan secara ringkas, ternyata benar produk Cina sudah mulai menarik hati warga Indonesia dengan gebrakannya yang jor-joran dan gaya marketing yang menurut saya luar biasa masif.

Komparasi Dengan Mobil Jepang

Saya perhatikan, saat ini muncul narasi bahwa rata-rata mobil Jepang disebut over-price karena fiturnya itu-itu saja. Bayangkan, merk Cina bisa memberi harga 100–200 juta lebih murah dari mobil Jepang bahkan dengan fitur yang jauh lebih banyak dan desain eksterior maupun interior yang lebih mewah. Saya katakan berita ini valid, dan memang benar apa yang ditawarkan merk Cina jauh lebih menarik, khususnya di mata warga Indonesia yang kebanyakan kaum mendang-mending.

Contohnya, fitur gimick yang disukai orang-orang adalah panoramic sunroof yang menambah kesan mewah pada mobil yang biasanya dijual untuk mobil harga 400 jutaan ke atas, kini di mobil Cina ini merupakan fitur dasar untuk mobil di bawah 300 jutaan. Ya, produsen Cina telah riset banyak tentang selera masyarakat Indonesia dan mereka langsung mengambil kesempatan ini untuk menyalip dominasi Jepang.

Tentang Mobil Listrik

Hemat cost untuk energi (BBM) dan pajak yang murah membuat banyak orang mulai tertarik untuk pindah ke mobil listrik, meskipun ada beberapa kekurangan seperti perilaku berkendara yang harus diubah dan ketersediaan SPKLU yang masih terbatas. Selain itu, rata-rata mobil listrik menawarkan desain dan fitur yang modern dibanding mobil bensin konvensional. Lagi-lagi, di segmen mobil listrik produsen Cina menjadi pemain besar agar tidak kalah start dengan produsen Jepang yang sudah mendominasi mobil BBM konvensional.

Produsen Cina Mulai Mengubah Persepsi Masyarakat

Para produsen memahami, bahwa pandangan masyarakat Indonesia terhadap produk Cina masih banyak yang skeptis. Beberapa tahun lalu, jika ditemukan produk “made in China” pasti dianggap sebagai produk yang memang murah dan asal jadi dengan kualitas yang diragukan. Kini, banyak sekali produk Cina yang meningkatkan kualitas dan kepercayaan masyarakat secara signifikan, misalnya produk-produk handphone seperti Xiaomi, Huawei, Oppo, dll. Begitu juga dengan otomotif, produsen Cina juga melakukan berbagai cara untuk meningkatkan kepercayaan seperti menawarkan garansi yang panjang, free maintenance, juga mengundang influencer otomotif top seperti Fitra Eri, Ridwan Hanif, Om Mobi datang langsung ke pabrik untuk menyaksikan produksi dan error test.

Pandangan Saya

Saya akui, secara fitur dan kemewahan mobil Cina menang telak atas mobil-mobil Jepang yang memang begitu-begitu saja. Namun, saya tidak memilihnya sekarang bukan karena saya tidak mementingkan kantong saya, melainkan ada beberapa pertimbangan yang membuat saya berkata “nanti dulu”:

  1. Meskipun menawarkan fitur dan desain yang “wah”, produsen Cina belum memiliki sejarah yang panjang layaknya produsen Jepang & Eropa. Sering kali ditemukan matangnya suatu fitur dalam suatu produk karena telah melewati waktu dan riset yang sangat panjang dan trial eror langsung dari pengguna.
  2. Banyak sekali keluhan pengguna yang sudah membeli mobil Cina soal ketersediaan spare part dan bengkel yang hanya ada di kota-kota besar. Sedangkan kebutuhan saya adalah bepergian ke luar kota, dan saya ingin banyak bengkel yang memahami kondisi mobil saya.
  3. Meskipun menawarkan garansi yang panjang sebagai bentuk menarik kepercayaan konsumen, tetap saja masih menimbulkan rasa was-was. Anggap saja jika ada error mereka memberikan service gratis, tetap saja akan selalu muncul pertanyaan “kapan ini terjadi lagi?”.
  4. Mobil-mobil baru dengan fitur yang berbeda secara signifikan sangat cepat dirilis dan terkadang membuat pembeli pertama kesal. Misal, saya membeli produk A yang menurut saya bagus di tahun ini. Di tahun depan ada produk A+ yang fiturnya jauh lebih bagus dengan harga yang sama.
  5. Antara kelas produk sangat sulit dibedakan. Mobil dengan harga di bawah 300 juta memiliki fitur-fitur yang tidak terlalu mencolok dengan mobil dengan harga di atasnya, bahkan desainnya sangat mirip-mirip. Hal ini menghilangkan kesan ekslusif antar pengguna.

Menurut saya, membeli mobil Cina bisa menjadi keputusan terbaik jika alasannya ingin merasakan sensasi berkendara yang segar dengan fitur melimpah. Akan tetapi, saya masih butuh perasaan tenang karena fitur-fitur gimmik ujung-ujungnya akan bosan, sedangkan perasaan was-was tidak hilang dengan mudah. Saya menghargai beberapa orang yang sudah pindah ke produk Cina, dan saya berkata “Biar mereka beli duluan sebagai penguji nanti beberapa tahun kemudian saya lihat hasilnya. Jika bagus saya pindah, jika tidak saya tunggu lagi sampai mereka benar-benar bagus” hehehe. Jadi, saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk menguji produk-produk baru yang belum teruji, cukup orang lain jadi pengujinya.

Saya mengambil keputusan ini karena belajar dari handphone. Dulu, saya menggunakan produk-produk Cina dan ternyata produk awal mereka tidak begitu bagus dan banyak sekali eror, meskipun fiturnya banyak dan spesifikasi tinggi. Padahal, mereka telah melakukan riset dari produk yang sudah mapan dari Nokia maupun Samsung. Namun, waktu tidak bisa berbohong, trial error dari pengguna tetap dibutuhkan karena banyak hal yang terkadang tidak terduga dan tidak masuk ke dalam riset. Karena, saya tidak suka menjadi penguji dan menjadi orang yang berada di masa transisi.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *