Perdebatan mengenai rezeki adalah perdebatan yang tidak ada habisnya, baik dari kalangan orang awam, agamawan, atau kalangan orang-orang yang tidak peduli dengan agama. Masih kita dengar perkataan, “rezeki sudah ada yang ngatur.” dan itu memang benar. Jangankan rezeki, hidup kita secara keseluruhan memang sudah diatur harus bagaimana. Menurut pengamatan saya, rezeki tidak terkait dengan seberapa banyak waktu yang dibuang, seberapa cerdas dia, dan seberapa banyak usaha yang dilakukan. Banyak saya temukan, orang yang sangat cerdas dalam ekonomi, tapi kehidupannya ya begitu-begitu saja. Dia tidak punya waktu untuk praktek ilmu ekonominya, karena ada urusan lain yang lebih urgen yaitu urusan keluarga. Banyak juga orang berangkat subuh pulang malam, tapi kehidupannya ya begitu-begitu saja, karena banyak tekanan di hidupnya yang memaksa dia terus ada di dalam kondisi tersebut. Misal, jika dia resign tiba-tiba, dia takut cicilan motornya tidak terbayar.
Jika seandainya Allah menginginkan rezeki yang banyak untuk seorang hamba, tentu Allah jugalah yang akan memberikan privillege atau kemudahan untuk mendapatkannya. Contoh, Allah ingin rezeki si Bayu banyak, maka Allah berikan dia ilmu, berikan dia waktu, dan berikan dia kesempatan-kesempatan emas sehingga rezeki itu datang kepadanya. Contoh lain, Allah ingin rezeki si Fery sempit, maka Allah juga datangkan sebabnya. Si Fery memang pintar ekonomi, finance, bahkan pintar main saham, tetapi ada saja hal yang membuat si Fery kesulitan menerapkan ilmunya dan uang si Fery terpakai terus untuk kebutuhan keluarga, sehingga main sahamnya tidak jadi. Sampai sini, seharusnya konsep rezeki sangatlah mudah dipahami. Dengan konsep rezeki yang seperti ini, tidak seharusnya seseorang membanggakan diri dengan berkata, “Saya mati-matian dulu bekerja keras, belajar, ini dan itu. Saya dulu belajar sampai malam, akhirnya cumlaude, diterima di perusahaan, kemudian saya jadi bosnya.” Seandainya Allah tidak ingin dia seperti itu, maka tidak akan jadi seperti itu.
Luas dan sempitnya rezeki (dalam bentuk harta) bukanlah tanda kemuliaan atau kehinaan, karena ini adalah paham Jahiliyyah. Orang Jahiliyyah menganggap jika harta banyak, maka dia dimuliakan oleh Allah. Jika hartanya kurang, maka dia sedang dihinakan oleh Allah. Padahal, harta adalah salah satu bentuk ujian, terkadang Allah ingin menjaga seorang hamba dari ujian yang besar dengan dihalanginya dari harta. Misal, Allah mengetahui jika si Ano memiliki uang banyak, maka dia akan maksiat lebih banyak. Ya lihat saja, baru punya uang 100 ribu saja sudah topup judol, apalagi punya uang 100 juta, lebih parah lagi topupnya. Tapi tunggu dulu, kalau kita bahas rezeki kok bawaannya tentang harta melulu ya?
Jadi begini, terkadang rezeki datang bukan dalam bentuk harta. Intinya, rezeki adalah apapun itu yang mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan. Jika seseorang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, maka rezeki datang dalam bentuk harta. Jika seseorang sedang sakit, maka rezeki datang dalam bentuk kesehatan. Misal, seseorang sakit Kanker, tanpa harus ke rumah sakit yang menghabiskan ratusan juta, dia lebih memilih air Zamzam. Kemudian dia sembuh setelah meminumnya, maka rezeki itu setara dengan ratusan juta meskipun harganya mungkin hanya ratusan ribu. Bentuk lain dari rezeki adalah keluarga yang penyayang, anak-anak, lingkungan kerja yang baik, dan sebagainya, dimana semua itu patut disyukuri.

Leave a Reply