Di antara problem yang lumayan besar di zaman ini adalah banyak orang yang ingin cepat kaya dengan cara instan. Akhirnya, segala macam cara ditempuh tak peduli rambu-rambu hukum agama dan negara. Ditangkapnya beberapa orang seperti Indra Kenz, Doni Salmanan, sudah cukup menjadi bukti bahwa orang-orang seperti itu banyak diidolakan anak-anak muda. Bagaimana tidak, mereka bisa tajir melintir tanpa usaha keras modal main gadget dan nontonin candle stick. Yang saya bicarakan adalah orang-orang yang ingin cepat kaya lewat jalur crypto, trading berbau judi (scalper), dan yang sejenisnya. Bahkan, saya sangat lelah meladeni pertanyaan orang-orang terdekat tentang hal ini. Pertanyaan seperti “Gun, kalo investasi disini untung gak? Gun, gimana cara dapat duit milyaran online? Gun mau investasi nih, kira-kira dapat berapa dalam sebulan?” Sudah sering saya terima, dan tentunya akan saya balas dengan singkat. “Mending gak usah lah, gak usah ngayal!”
Munculnya influencer trading / investasi seperti Timothy Ronald, Raymond Chin, dll, membuat sebagian anak muda “melek” dunia investasi. Rata-rata, anak muda cari model investasi yang “katanya” paling cuan seperti crypto, dan trading-trading harian. Jarang sekali anak muda yang ingin belajar investasi secara konvensional, seperti membaca geopolitik, arah pasar, laporan keuangan, dan semisalnya. Menurut mereka, investasi seperti itu melelahkan, kurang menjanjikan dan lambat dibanding crypto dan trading ala scalper. Karena “ngebet” dan “ngayal” pengen cepet kaya, akhirnya mereka bukan berinvestasi melainkan berjudi.
Yang cukup menggelikan adalah fenomena munculnya trader-trader crypto (bocil crypto) yang berkoar-koar dimana-mana, seolah-olah besok mereka jadi miliarder atau triliuner. Padahal, mereka hanyalah mangsa pemain besar dan uang mereka hanya dialihkan kepada para pemain besar tersebut. Memang benar ada segelintir orang yang beruntung dan kaya lewat jalur crypto, namun dari mana kekayaan mereka berasal kalo bukan dari sesama trader yang “kalah”? Bocil-bocil crypto inilah yang menjadikan harga crypto tidak karuan dan dimanfaatkan oleh para pemain besar tersebut. Berita-berita domplengan seperti crypto akan to the moon, dipakai suatu negara, dan lain sebagainya, hanyalah umpan untuk bocil-bocil crypto tersebut agar masuk ke dalam dunia crypto. Ibarat tukang mancing ikan yang menebar umpan agar ikan-ikan kecil berkumpul untuk dijaring.
Tentu hal ini berbeda dengan investasi konvensional (tentunya yang sesuai syariat dan non-riba). Ada barang atau jasa yang terjual, ada kepuasan dari klien-klien mereka, ada masa depan perusahaan mereka, ada karyawan mereka yang digaji. Kaya dari investasi seperti ini tentu lebih berkah dan tidak mengambil hak orang lain. Berbeda dengan trader crypto atau scalper yang hanya saling memangsa, terutama para bandar dengan saham gorengannya yang memangsa investor mentah. Yang saya temukan mereka hanyalah para penghayal yang mengharapkan keberuntungan dari cara berinvestasi tersebut.
Uang Dikit Mau Investasi
Ada banyak sekali orang-orang yang “ngebet” masuk dunia investasi dengan modal yang sangat sedikit. Padahal, uang puluhan juta saja returnya kurang terasa, walaupun suatu saham sudah naik ratusan persen. Yang jadi heran, ada orang ingin berinvestasi modal ratusan ribu. Tentunya sah-sah saja, tapi ingin cepat kaya dengan investasi tersebut adalah khayalan. Kecuali, dia memang bisa konsisten berinvestasi dan BERSABAR, insyaallah bisa kaya dengan ratusan ribu. Namun yang menjadi masalah, sudah modal kecil, tidak ada kesabaran untuk belajar, tidak sabar menunggu, dan ingin cepat kaya. Ujung-ujungnya jatuh lagi ke investasi berbau judi atau dunia crypto. Jika memang merasa modal masih kecil, sebaiknya diinvestasikan menjadi ILMU untuk meningkatkan penghasilan. Setelah penghasilan membesar dan cukup untuk berinvestasi, maka di situlah momen yang tepat untuk investasi saham.

Leave a Reply