Berinteraksi dengan orang di sekeliling baik itu tetangga, teman, saudara, atau rekan kerja, pasti muncul persoalan yang terkadang nampak atau tidak. Di antara persoalan yang tidak nampak adalah kita tidak mengetahui ada orang yang hasad kepada kita, walaupun mungkin terlihat orang tersebut masih bersikap ramah dan mengumbar senyuman. Namun, terkadang semua itu hanyalah kepalsuan, dan di dalam hatinya dia sangat ingin kenikmatan yang kita miliki itu segera lenyap dan hilang. Sudah menjadi fitrah manusia ingin terus mengungguli dan tidak ingin diungguli orang lain, apalagi orang terdekat.
Yang paling penting, meskipun ada yang hasad kepada kita, kita tidak perlu menjadi hasad kepada siapapun. Lakukan upaya dan raihlah yang terbaik untuk diri sendiri dan keluarga, jika ada orang yang hasad maka jangan hiraukan. Jika memang ada yang jauh lebih hebat daripada kita, yakinlah hal tersebut murni karunia Allah dan akuilah bahwa mereka orang yang hebat. Tidak perlu mengorek-ngorek lebih dalam mengapa mereka bisa seperti itu, mencari-cari celah aibnya, dan lain sebagainya dimana hal tersebut adalah sifat orang hasad.
Hasad Paling Parah
Anggap saja si Fulan adalah seseorang yang beruntung. Usahanya sukses, orang-orang menyanjungnya, ternyata temannya si Allan tidak menyukai karunia tersebut. Si Allan melakukan framing kepada orang-orang terdekat si Fulan bahwa si Fulan telah melakukan kecurangan dalam bisnis, melakukan makar, dan lain sebagainya sehingga orang-orang tertipu. Karena sikap si Allan, orang-orang berbalik curiga kepada si Fulan dan menganggap si Fulan adalah orang yang licik. Ini adalah contoh hasad yang paling parah dan paling menjijikkan. Penyakit hati yang menghasilkan keburukan lain seperti ghibah, fitnah, dan adu domba. Sayangnya, peristiwa ini muncul berkali-kali di sekitar saya. Hal tersebut sering muncul di dunia kerja, pendidikan, bahkan di yayasan keagamaan.
Hasad Kelas Tengah
Selanjutnya adalah hasad kelas tengah, yaitu orang yang hasad meremehkan karunia yang didapatkan orang lain dengan mencari-cari aibnya yang lain. Contohnya mengungkit-ungkit masa lalu, keburukan yang pernah dilakukan, dan lain sebagainya. Anggap saja si Fulan dahulunya pemabuk, tukang judi, dan lain sebagainya kemudian bertaubat. Setelah bertaubat, ternyata kehidupan si Fulan membaik dan justru mengungguli si Allan. Si Allan tidak terima, kemudian si Allan meremehkan si Fulan dengan kalimat-kalimat hasad seperti:
“Dulunya pemabok tuh, bisnis berkembang gara-gara orang-orang kasian aja sama dia. Berhubung bapanya juga kan support dan banyak relasi, kalo saya ini kan usaha kerja keras sendiri.”
“Sebenernya biasa aja sih kayak gitu mah, gak hebat-hebat amat.” Padahal, si Fulan tidak pernah mengaku hebat.
Intinya, si Allan ini tidak ingin melihat si Fulan terlihat unggul darinya.
Hasad Kelas Bawah
Jika hasad sebelumnya menimbulkan perbuatan-perbuatan buruk, hasad yang paling rendah ini tidak menimbulkan perbuatan buruk melainkan hanya rasa jengkel di hati. Misal, si Fulan sukses dan disanjung banyak orang. Si Allan tidak terima, namun tidak diungkapkan dengan ghibah, fitnah, maupun sikap meremehkan. Si Allan hanya jengkel dan ingin agar usaha si Allan cepat-cepat jatuh. Kehidupan si Allan habis hanya untuk memata-matai sosial media si Fulan, sambil berharap apakah keburukan menimpa si Fulan. Jika keburukan menimpa si Fulan, maka si Allan merasa senang. Jika kebaikan menimpa si Fulan, maka si Allan merasa tambah jengkel.
Menghadapi Orang Yang Hasad
Tentu seharusnya kita ingin agar tidak ada orang yang hasad kepada kita. Namun, apa boleh buat terkadang hal ini terjadi. Terkadang ada orang yang sengaja ingin agar orang-orang hasad kepadanya, seperti mengumbar seluruh karunia dan rizki seliar-liarnya, agar orang lain menyanjungnya. Oleh karena itu, Allah menurunkan hukum ‘ain (penyakit mata) agar orang-orang berhati dengan sikap seperti ini. Betapa banyak orang yang hancur karena sengaja membuat orang lain hasad kepadanya, dan mendoakan keburukan. Secara fitrah, ketika seseorang melihat kehidupan orang lain lebih baik daripada kehidupannya, maka akan timbul rasa iri di dalam hati. Inilah pentingnya menjaga perasaan orang lain agar tidak hasad.

Leave a Reply