Di Antara Bentuk Kebodohan – Takut Hantu

Sejak kecil mungkin kita sudah terbiasa dengan cerita-cerita horor, film horor, atau mitos-mitos yang datang dari orang tua. Terkadang, orang-orang sekitar sengaja menakut-nakuti sehingga kita meyakini ada makhluk lain yang tak kasat mata bisa mencelakai kita. Selama hidup puluhan tahun, saya sama sekali tidak menemukan bukti ada seseorang tewas digigit hantu, atau ditikam tiba-tiba saat tidur oleh Kuntil Anak. Jika orang diterkam harimau, buaya, ataupun hewan liar, ini sangatlah banyak dan wajar jika kita takut hewan buas. Bukan berarti tidak percaya adanya jin, melainkan ketakutan yang berlebihan terhadap makhluk ghoib adalah kekonyolan dan kebodohan yang terus dipelihara di Indonesia. Ketika ada konten kreator lewat di beranda saya sedang live di kuburan, atau tempat yang katanya angker, akan langsung saya skip karena saya tidak sanggup melihat segala kekonyolan orang-orang yang seperti itu.

Lebih konyolnya banyak konten kreator yang sengaja membuat review tentang suatu hotel, dia mengesankan bahwa hotel tersebut banyak gangguan makhluk halus. Padahal, itu hanyalah halusinasinya dan perasaannya yang sengaja membesar-besarkan hal yang seharusnya wajar. Misal, ketika ada barang jatuh tertiup angin, orang dengan mental penakut akan membesar-besarkannya, bahwasanya yang menjatuhkan barang tersebut adalah makhluk halus. Atau ketika ada suara orang menangis dan tertawa di malam, orang dengan mental penakut mengira itu adalah suara Kuntil Anak atau hantu anak kecil yang sedang bermain. Entah sampai kapan kebodohan ini terus dikembangkan di tanah air tercinta, apalagi banyak produsen film yang sengaja membuat film horor demi secarik kertas bernama uang yang akhirnya membodohi masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun. Jika ditanya, pasti alasannya hanya hiburan atau kreativitas semata, mereka tidak memikirkan dampaknya bagi masyarakat, anak-anak, bahkan orang-orang dewasa.

Akhirnya, setelah hotel direview sebagai “hotel angker”, hotel menjadi sepi tanpa alasan yang jelas alias konyol. Padahal, hotel tersebut secara fasilitas dan layanan memang benar-benar bagus. Jika alasannya hotel tidak terawat, pelayanan buruk, atau fasilitas kurang memadai, maka hal yang masuk akal jika hotel tersebut menjadi sepi. Jika alasannya gara-gara seorang konten kreator menginap lalu mengaku mengalami gangguan makhluk halus, ini adalah kebodohan yang nyata yang harus dibasmi, bahkan bila perlu pemerintah harus menghukum orang-orang seperti ini. Bayangkan, ada banyak orang yang mencari nafkah di sana menjadi terganggu dan terancam gara-gara saking banyaknya orang bodoh dan orang-orang yang dibodohi hal semacam ini. Masyarakat Indonesia yang dikenal beragama namun penakut terhadap hantu perlu diedukasi lebih dalam, bahak seharusnya hal ini diajarkan di sekolah-sekolah.

Ketika tinggal di Eropa, kontrakan saya dekat dengan gereja tua yang selalu kosong, dan di belakangnya ada makam. Sering kali rumah saya mati lampu dan rumah tersebut jauh dari pusat kota. Sering juga saya dengar suara-suara jatuhnya barang, atau orang lain namun saya sama sekali tidak takut (alhamdulillah). Bukan karena saya tidak percaya makhluk ghaib, melainkan pikiran saya selalu tertuju kepada hal-hal yang masuk akal seperti hembusan angin, disenggol hewan, dan lain sebagainya. Alangkah bodohnya jika sedikit-sedikit hal tersebut saya kaitkan dengan aktivitas makhluk halus. Seandainya memang benar hal tersebut aktivitas makhluk halus, maka bersikap bodo amat adalah hal yang terbaik. Bila perlu, saya menantang makhluk halus tersebut menunjukkan diri dan berkelahi daripada harus mengganggu saya. Tentu, akan sangat ruwet jika saya harus mencari rumah baru, harus memperbarui identitas baru, kemudian melakukan negosiasi lagi. Anggap saja saya pindah karena takut, jika ternyata hal tersebut terulang, alangkah bodohnya diri saya.

Saya punya kawan, dia adalah orang yang sangat penakut. Saya merasakan betapa ruwetnya hidup atau bersama orang tersebut. Bayangkan, beberapa hari sebelum pergi kita sudah memesan hotel dengan kondisi yang kita inginkan. Ketika sampai di hotel, ternyata kawan saya merasa bahwa hotel tersebut angker. Saya tidak merasakan hal apapun dan pikiran saya begitu jernih memikirkan acara besok daripada hal-hal konyol demikian. Akhirnya, selama di hotel dia membukakan pintu dan selalu mengungkapkan ketakutan yang berlebih tanpa sebab. Akhirnya, di malam hari, dia minta pulang atau mencarikan hotel lain yang menurutnya tidak angker. Saya berdebat dengannya karena jarak dari rumah ke hotel tersebut sangat jauh. Jika pulang, maka kemungkinan besar acara tersebut tidak bisa diikuti, padahal acara sudah disiapkan oleh pemerintah. Dengan hal-hal yang konyol seperti ini, sudah cukup berhasil membuat orang lain ruwet dan kerepotan tanpa sebab yang jelas.

Bayangkan jika dia memiliki keluarga, istri, dan anak-anak. Setelah bersafar jauh dan anak-anaknya sudah kelelahan, dia memutuskan untuk mencari hotel baru dengan alasan horor dan angker. Anak-anak dan istrinya harus kerepotan melakukan packing lagi dan berjalan kaki ke hotel yang baru. Padahal waktu sudah cukup malam dan idealnya beristirahat.

Hal inilah mengapa ketakutan terhadap hantu membuat hidup menjadi sulit, ruwet, dan kurang produktif. Makhluk ghaib memang harus dipercayai bagi kita sebagai orang yang beragama, namun tidak perlu ditakuti secara berlebihan apalagi tidak ada bukti orang benar-benar mati gara-gara ditikam Genderuwo. Jika memang setiap tahun ada orang mati ditikam Genderuwo yang menyeramkan itu, maka hal yang wajar jika kita taku.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *