Rasa Takut Adalah Sumber Ketaatan

Sering kali kita temukan banyak peristiwa, dimana seorang anak tidak nurut kepada orang tuanya dan istri selalu melawan suaminya. Hal tersebut dikarenakan tidak ada sosok yang dianggap sebagai pemimpin sehingga mereka bisa berbuat semaunya mengikuti hawa nafsu. Hal yang menyebabkan demikian adalah satu, yaitu rasa takut yang kurang. Konsepnya sangatlah sederhana, seseorang cenderung akan lebih taat jika ada rasa takut kepada yang ditaati. Contohnya adalah seorang karyawan yang taat kepada manajer, bos, atau orang dengan posisi di atasnya. Jika karyawan berbuat salah, akan ada kekhawatiran dipecat, tidak diperpanjang kontraknya, dan lain sebagainya. Rasa takut tersebut menghasilkan ketaatan secara alami tanpa harus susah payah berteriak. Begitu juga ketika seorang hamba takut kepada Allah, maka dia akan dengan mudah melakukan ketaatan.

Memunculkan Rasa Takut Kepada Anak

Tentu memunculkan rasa takut kepada anak bukan dalam artian akan memukulnya atau melakukan hal-hal yang akan membuat trauma sang anak. Pastinya, setiap anak mendambakan orang tua yang menyayanginya, hadir dalam hidupnya, bukan orang tua yang kasar kepadanya. Begitu banyaknya anak yang kurang ajar kepada orang tua dikarenakan sikap-sikap yang salah dari orang tua, di antaranya:

  1. Tidak memberikan hak-hak anak dengan baik sehingga hilang harga dirinya di mata anak.
  2. Terlalu memanjakan anak, tidak tega melihat anak merengek sehingga memberikan apapun keinginan impulsifnya.

Maka, seharusnya anak dilatih sejak kecil untuk selalu berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Anak yang dimanjakan dengan cara memberikan apapun yang diinginkan akan menghasilkan jiwa pemalas dan ingin serba instan. Betapa banyak anak yang meronta-ronta ketika keinginannya tidak dipenuhi ketika orang tuanya tidak mampu memberinya. Melatih anak sangatlah sederhana, misalnya “Jika mau dibelikan eskrim tolong tutup pintu.” atau “Tolong ambilkan sesuatu nanti dikasih uang jajan.” Semakin banyak kita melatih anak dengan hal demikian, maka semakin anak itu sadar bahwa segala sesuatu butuh perjuangan. Kita juga secara tidak langsung menghargai usaha anak dan mereka akan merasa lebih disayangi. Jika si anak tidak mau menuruti perintah, maka konsekuensinya jangan berikan apa yang dia inginkan meskipun dia merengek-rengek. Nantinya, rasa takut akan muncul dalam diri si anak dan dia merasa ada dalam penguasaan orang tua.

Berbeda jika seorang anak yang selalu dipenuhi keinginannya tanpa melakukan usaha apapun, maka mereka akan semakin mudah melawan terhadap orang tua. Mereka akan menyadari bahwa segala sesuatu bisa didapatkan hanya dengan rengekan dan tangisan secara terus menerus. Begitu banyak di luar sana anak yang terbiasa dimanjakan oleh orang tuanya saat takut berjuang di luar untuk bekerja, merantau, dan melakukan hal-hal yang progresif. Saya memiliki contoh sederhana, ketika seorang pemuda pengangguran saya tawari bekerja di luar kota, maka dia mengeluarkan sejuta alasan padahal sudah lulus SMA lebih dari 6 tahun. Alasannya takut, capek, jauh dari orang tua, belum siap, dan lain sebagainya. Akhirnya karena kosongnya kegiatan yang dilakukan hanyalah nongkrong, main game, dan wara-wiri tanpa tujuan yang jelas.

Ada juga tipe orang tua yang tidak memiliki harga diri di depan anak-anaknya, seperti sering mengabaikannya, jarang interaksi, sibuk dengan kegiatan sendiri, dan lain sebagainya. Meskipun setiap hari ada di rumah, sang anak tidak merasakan kehadiran orang tuanya. Ketika dia memerintahkan sesuatu, maka tidak heran jika si anak melawan karena si anak tidak menyadari bahwa dia harus berbalas budi kepada orang tuanya. Semakin dewasa, kemungkinan si anak tidak peduli lagi dengan orang tuanya sehingga baktinya kurang. Begitu banyak anak yang telah merantau namun mereka tidak pulang-pulang karena merasa tidak ada yang spesial ketika pulang ke rumah. Semakin seorang anak diperhatikan bukan dalam artian dimanjakan, maka akan semakin besar rasa hormat anak kepada orang tua. Hal ini juga menyebabkan banyak muncul generasi sandwich pengeluh karena mereka tidak merasa pengorbanan yang mereka lakukan terhadap orang tua atas dasar rasa sayang, melainkan keterpaksaan karena keadaan.

Memunculkan Rasa Takut Terhadap Suami

Saya membaca banyak sekali berita, banyak para istri yang ingin bercerai dengan suaminya dengan alasan memiliki karir yang lebih tinggi. Misal, seorang istri adalah PNS dan suaminya hanyalah karyawan biasa. Banyak juga kisah nyata perempuan yang sudah bersuami berpacaran dengan orang yang memiliki jabatan tinggi di kantornya. Inilah mengapa laki-laki dianjurkan untuk unggul di atas istrinya dari segi pendidikan, ilmu, bahkan karir. Membiarkan istri memiliki kedudukan yang lebih tinggi sangatlah berbahaya, dan sayangnya kita hanyalah orang biasa bukan bangsawan maupun hartawan. Ingatlah kisah Zaid bin Haritsah radiyallahu ‘anhu dimana istrinya Zainab radiyallahu ‘anha tidak merasa bahagia karena Zainab berasal dari keluarga (nasab) yang kedudukannya lebih tinggi daripada Zaid. Mereka adalah orang yang langsung dididik oleh Nabi ﷺ, namun hal tersebut tetaplah terjadi karena ini manusiawi.

Mendapatkan istri dengan status sosial yang tinggi mungkin bisa dibanggakan di hadapan keluarga dan teman-teman. Namun, kemungkinan besar penderitaannya jauh lebih besar daripada rasa bangga yang hanya sementara. Betapa banyak suami yang bisa tersenyum di luar karena sudah menyimpan banyak luka di rumahnya, yaitu istrinya tidak menghargainya. Maka, agar suami bisa ditaati oleh istrinya, proses dimulai saat pencarian, bukan yang sudah terlanjur menikah karena akan jauh lebih sulit untuk mengubahnya. Inilah mengapa bahwa kesetaraan disarankan dalam Islam. Kesetaraan yang dimaksud seperti kesetaraan nasab, pendidikan, kekayaan, fisik, suku, dan lain sebagainya. Di zaman sekarang, mungkin status sosial bisa diukur dengan followers sosial media, keterkenalan, harta, dan lain sebagainya. Maka seorang lelaki harus bisa mengukur apakah calon istrinya sering mencari atensi di kehidupan nyata atau media sosialnya? Jika iya, maka kemungkinan besar rumah tangga akan selalu dipenuhi tuntutan dari sang istri karena sang istri cenderung menginginkan validasi dari orang-orang.

Setelah kesetaraan, maka perlu bagi suami untuk menumbuhkan rasa takut kepada istrinya. Sama seperti anak, rasa takut yang dimaksud bukan dalam artian kekerasan atau hal-hal yang menimbulkan trauma. Namun bagaimana caranya agar sang istri merasa butuh kepada suaminya dan mau berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Contoh sederhananya adalah dengan tidak menyerahkan uang seluruhnya kepada istri, karena hal ini perlahan-lahan menjadikan istri berkuasa atas suaminya. Betapa banyak suami yang harus memohon-mohon minta uang kepada istrinya dan harus menjelaskan peruntukannya layaknya mengajukan proposal APBN. Padahal, uang tersebut adalah hasil dari kerja kerasnya. Ketika suami ingin memberikan uang kepada ibunya, terkadang istri menahan dan mengaturnya dengan berbagai alasan. Misal, “Aduh mas, 2 juta kebesaran kita juga banyak butuh lho. Kalau 500 ribu saja bagaimana.” Banyak juga suami yang tidak ringan tangan untuk bersedekah karena harus menjelaskan dan meminta izin kepada istrinya.

Selain soal uang, perlu juga memberi perhatian terhadap istri dalam hal apapun yang menunjukkan penghargaan dan kepedulian. Agar sang istri merasakan adanya sosok pemimpin yang terus membimbingnya. Kembali lagi, kondisi setiap orang bisa berbeda-beda terkadang hal ini juga dipengaruhi faktor perangai (sifat yang sangat sulit diubah) mungkin dari kecil sudah biasa melawan kepada orang tua sehingga saat dewasa sulit memahami arti ketaatan.

Memunculkan Rasa Takut Kepada Masyarakat

Seandainya seseorang diamanahkan jabatan seperti menjadi ketua RT/RW, lurah, kades, bupati, dan seterusnya, maka tingkat menumbuhkan ketaatan kepada masyarakat akan lebih sulit. Sering kali pemimpin yang sering menakut-nakuti rakyatnya justru menimbulkan pemberontakan yang akhirnya akan menghasilkan kekacauan. Oleh karena itu, saya sangat tidak suka ada orang yang merasa percaya diri bisa memimpin suatu tempat atau daerah seperti para cakades, cawalkot, cabup, dan seterusnya. Meskipun keberadaan mereka diperlukan, namun menurut saya tidak dengan orang-orang yang sengaja mencari jabatan.

Meskipun sulit, masih tetap ada ikhtiar agar masyarakat bisa lebih taat kepada pemimpinnya. Yang pertama dilakukan adalah bagaimana caranya agar masyarakat segan terhadap pemimpin. Ini memang sulit dan penuh trik, dan uniknya masyarakat bisa menyadari bahwa pemimpinnya sedang pencitraan atau memang benar-benar tulus melayani masyarakat. Inilah mengapa seorang pemimpin memang harus dipilih dari orang yang terbukti bersih, berwibawa, dan tidak nampak rakus kekuasaan. Jika seseorang rakus kekuasaan, maka akan semakin terlihat bahwa kebaikan yang dipamerkan hanyalah pencitraan agar bisa menang dalam pemilihan. Saya tidak berbicara tokoh tertentu, namun ini memang umum terjadi di Indonesia mulai dari jabatan tingkat atas maupun tingkat sekolah.

Setelah mendapatkan jabatan, maka langkah selanjutnya adalah menumbuhkan rasa ketaatan terhadap masyarakat. Jika pemimpin melayani masyarakat dengan baik, tulus, maka kemungkinan besar mereka akan lebih dihormati dan tentu mudah ditaati oleh rakyatnya. Jika sebaliknya, tidak adanya perubahan apapun, masalah terus terjadi berulang-ulang tanpa ada kejelasan, atau tidak ada peningkatan layanan, maka jangan heran setiap imbauan akan dijadikan lelucon oleh masyarakat. Dari sinilah kita menilai bahwa transparansi dan publikasi itu penting. Mempublikasikan hasil kerja bisa menjadi pencitraan atau murni informasi, hal ini adalah urusan hati yang hanya diketahui oleh Tuhan. Maka, saya menilai jika ada seorang pemimpin yang mempublikasikan seluruh kegiatannya bahwa hal tersebut bukanlah pencitraan. Melainkan cara komunikasi seorang pemimpin terhadap rakyatnya, agar rakyatnya tahu pemimpinnya sedang apa dan kapan mereka akan dilayani.

Selain itu, terkadang perlu memberi hukuman kepada sekelompok masyarakat agar mereka takut berbuat curang. Misal, masyarakat yang sering membuang sampah ke sungai setelah adanya himbauan maka dihentikan bantuannya atau akan dipublikasikan ke media. Mendidik masyarakat memang tidak mudah, namun masih tetap bisa dilakukan secara efektif. Terkadang hukuman materi dan sosial secara langsung akan lebih terasa dampaknya dibanding hanya himbauan semata. Ada kutipan kata yang terkadang membuat saya tertawa:

Memberi pelajaran orang bodoh adalah dengan memberinya musibah

Menurut saya, perkataan tersebut benar 100% . Orang bodoh bukan berarti orang awam yang belum diedukasi apapun, namun orang yang sengaja tidak mengindahkan edukasi. Misal, ketika beberapa kali ditegur jangan membuang sampah di sungai, maka mereka tetap melakukannya. Orang seperti itu tidak akan bisa diedukasi ala akademisi yang menjelaskan bahaya bagi lingkungan dan seterusnya, namun mereka akan sadar ketika memang benar-benar mendapatkan musibah. Bukan berarti seorang pemimpin sengaja menciptakan bencana alam, namun bagaimana caranya orang-orang tersebut mendapatkan hukuman yang membuat mereka jera.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *