Nasionalisme Itu Penting Gak Sih?!

Sejak kecil, saya diajarkan untuk mencintai dan membela tanah air. Contoh kecilnya ya merayakan 17 Agustusan. Saat sekolah, saya juga ikut ekskul Pramuka dan kebetulan saat SMK saya adalah ketua Pramuka. Wow, betapa nasionalisnya saya! Kegiatan saya pada saat itu mempelajari dasar-dasar kepemimpinan, bela negara, dan tentunya cinta tanah air. Jika ditanyakan, apakah saya mencintai tanah air? Saya akan jawab ya, saya mencintai negeri dimana saya lahir dan saya tumbuh dewasa. Bagi saya, tanah air bagaikan rumah tempat saya berteduh, meskipun mungkin di rumah tersebut ada tikus, kecoak, cicak, dan hewan-hewan menyebalkan lainnya yang membuat saya tidak nyaman. Bukan karena rumahnya, akan tetapi karena ada hal lain yang memang memaksa saya harus minggat dari rumah untuk kebaikan saya.

Lho, katanya cinta tanah air, kok minggat dari rumah? Jujur saja, banyak sekali hal yang membuat saya terkadang muak tinggal di Indonesia. Setiap hari saya disuguhi berita yang menyesakkan dada, walaupun saya tidak sengaja mencarinya. Setiap mengobrol dengan teman, tidak jauh topiknya pembahasan tentang pemerintah. Setiap kali membuka portal berita, tidak jauh topiknya tentang kesuraman masa depan, korupsi, pajak naik, dan sebagainya. Sesekali saya membuka sosial media, ternyata banyak sekali tingkah laku aneh yang saya temukan di sebagian masyarakat. Misal, seseorang rela menghamba mulai dari sore hingga shubuh, joget tidak jelas hanya berharap saweran. Sebagian lagi ada yang mengaku bisa meliat khodam (jin). Apalagi, banyak sekali masyarakat yang percaya dengan Gus Samsudin. Tidak hanya itu, di kehidupan nyata, jarang saya temukan bahwa sesuatu berjalan dengan seharusnya (ideal). Misal, untuk mendapatkan sesuatu, terkadang seseorang harus “nyogok” secara terang-terangan.

Saya punya cerita, saya harus membeli barang seharga 2000 rupiah. Saya cari di toko A, ternyata tidak ada. Saya harus bayar parkir, 2000. Saya harus pergi ke toko B, ternyata tidak ada juga. Toko C, sama saja tidak ada. Setiap toko saya harus parkir motor dan harus bayar. Lho, mengapa bayar? Kenapa gak langsung pergi aja? Sering! Tapi perlakuan kurang ajar yang saya dapatkan dari tukang parkir liar. Pernah saya parkir di dalam gedung SAMSAT, dengan tulisan besar “PARKIR GRATIS”, saya langsung pergi. Kemudian ada orang berteriak “BAYAR PARKIR ANJ**G”. Pernah juga saya beli baju di distro, tiba-tiba tukang parkir minta bayar duluan, saya tidak ada cash, dia lantas menarik motor saya dan bilang “GAK USAH PARKIR DISINI, SANA KAMU!” Padahal itu lahan parkir resmi yang disediakan pemerintah. Jika cerita, banyak sekali kasus dimana saya diteriaki. Saya bepergian ke negara serumpun, seperti Malaysia, dan saya tinggal beberapa hari. Ternyata, suasana di sana lebih tenang, mungkin saya trauma dengan sikap tukang parkir tadi.

Pada tahun 2023, saya memutuskan pindah ke Eropa. Di sana kehidupan sangat jauh berbeda dengan negara Asia, ya sangat jauh! Mulai dari budaya, fasilitas, dan lain sebagainya. Saya merasakan ada ketenangan namun juga ada kekhawatiran, semuanya bercampur menjadi satu. Ketenangan yang saya rasakan adalah fasilitas yang mumpuni, jaminan hidup yang sangat baik, tidak disuguhi berita negatif layaknya di Indonesia, dan kepercayaan saya terhadap orang-orang sangat tinggi. Karena saya orang yang beragama Islam, hal inilah yang membuat saya khawatir. Saya agak kesulitan melaksanakan ibadah dan komunitas muslim masih sangat minim. Ada sih orang Indonesia, tapi mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, dan banyak dari mereka enggan berkomunitas. Apalagi saya suka jajanan jalanan seperti Batagor, Cimol, Gorengan, dsb, hal ini menciptakan kerinduan yang sangat besar terhadap tanah air. Saya akui, ada sebagian budaya Eropa yang saya sukai dan ada juga yang saya benci, begitu juga sebaliknya untuk budaya Indonesia. Orang Eropa sangat menghargai pejalan kaki, tidak pernah saya temukan di negara Asia. Orang Indonesia sangat terbuka, ramah, dengan segala kekurangannya.

Dari keluhan saya di atas, tunggu dulu, Jangan salah paham! Saya menulis seolah-olah saya membenci Indonesia? Tentu tidak! Tinggal di negara manapun pasti ada plus dan minusnya. Inilah yang membuat sikap saya tidak tetap dan terus berubah-ubah, dan saya paling tidak mau jika disuruh mengambil keputusan. Misalnya keluarga bilang, “Kenapa gak stay di sana aja sampe umur 40an?” Saya tidak mau menjawabnya. Saya akan menjawab apapun itu harus sesuai kondisinya. Jika saat ini Indonesia tidak worthy untuk ditinggali, maka saya akan pergi untuk sementara. Saya pernah berpikiran untuk mengubah kewarganegaraan, misalnya Australia. Saya memiliki peluang yang cukup besar untuk pindah ke Australia, dan banyak sekali orang bermimpi agar bisa pindah kesana. Namun dengan pertimbangan matang dan tidak gegabah, saya memilih untuk menundanya. Mengapa demikian? Saya selalu mencari tahu bagaimana keadaan orang-orang yang telah mengubah kewarganegaraan. Yang saya temukan, kualitas hidup mereka meningkat namun ada perang batin yang dirasakan, karena telah meninggalkan tanah kelahiran. Inilah yang saya rasakan, padahal saya belum berpindah kewarganegaraan. Tentu, dengan pindah negara secara permanen, ada banyak kenangan yang terpaksa kita pisahkan dari kehidupan. Khususnya bagi saya, jujur saya mencintai masakan, cuaca (tentu bukan Jakarta), dan alam Indonesia yang sangat bagus.

Pajak Di Indonesia Vs Eropa

Yang membuat dada saya sesak jika harus bekerja di Indonesia dengan gaji standar Eropa adalah pajak. Ya, jika dihitung-hitung, pajaknya mirip-mirip namun timbal baliknya membuat sakit hati. Di Eropa, saya ikhlas membayar pajak karena pelayanan publik sangat baik seperti transportasi, layanan pemerintahan, sosial, kesehatan, dan lain sebagainya. Sedangkan, di Indonesia, untuk berobat saja saya kadang harus mengantri, jika pakai BPJS layanannya antah berantah, kadang birokrasinya sangat aneh. Misal, jika saya lupa bawa kartu identitas, rumah sakit tidak mau memprosesnya, tidak peduli saya akan mati atau tidak. Di Eropa, pernah saya berobat tidak membawa identitas apapun, cukup sebutkan nomor residen yang diingat dan proses sat set langsung beres, dengan pelayanan yang sangat baik tanpa dibedakan. Tidak hanya itu, mengurus dokumen di Indonesia juga bisa dibilang lumayan berbelit-belit dan kadang harus “nyogok” agar dokumen cepat terbit.

Selain layanan yang antah berantah, ada hal lain yang membuat sesak dada jika membayar pajak di Indonesia. Setiap hari, kita disuguhi berita tentang korupsi, pejabat bagi-bagi kendaraan seharga 1M, pejabat ke luar negeri, dan lain sebagainya. Belum lagi, anak pejabat yang kadang pamer di sosial media dan saat diselidiki ternyata ayahnya korupsi pajak. Seandainya uang tersebut tidak saya bayarkan pajak dan saya berikan kepada orang terdekat, mereka akan sejahtera dan sangat berkecukupan. Ketika uang tersebut dibayarkan pajak, rasanya kita membiayai hidup hedon orang lain dan sia-sia. Ya, saya akui, jika tidak membayar pajak, mungkin negara akan runtuh dan tidak dapat beroperasi. Namun itulah hal yang saya keluhkan tentang Indonesia, di luar hal-hal yang saya cintai yang telah disebutkan. Jika kita tanyakan, mengapa orang-orang Eropa patuh membayar pajak? Jawabannya karena timbal balik yang memuaskan, dan jarang ada perilaku pejabat dan keluarganya yang menjengkelkan. Contohnya ini, sekelas perdana menteri masih naik sepeda untuk berdinas:

https://www.beautynesia.id/life/tanpa-pengawalan-khusus-ini-kisah-eks-pm-belanda-pergi-ke-kantor-dengan-gowes-sepeda/b-300190

Selain timbal balik yang memuaskan, penghasilan di Eropa juga cukup tinggi. Meskipun sudah dipotong pajak, kita masih bisa menabung dengan jumlah sangat besar. Di Indonesia, gaji UMR itu sangat pas-pasan untuk hidup, bahkan memustahilkan orang untuk membeli mobil dan rumah. Jika ingin punya rumah dan mobil, maka di Indonesia harus punya jabatan tinggi di pemerintahan atau perusahaan, atau memiliki bisnis. Jarang sekali karyawan biasa yang bisa menjangkaunya. Di Eropa, sangat mungkin membeli mobil secara cash dalam waktu 2 tahun bekerja, dengan jabatan di perusahaan yang biasa saja. Ya saya akui, untuk rumah, memang sangat mahal. Tapi, tinggal di apartemen saja sudah sangat worthy daripada tidak sama sekali. Sekaligus kita juga bisa transfer ke keluarga yang ada di rumah.

Jadi, Nasionalisme Apakah Wajib?

Nasionalisme dalam artian mengharapkan kebaikan bagi negeri sendiri bukanlah kewajiban, tetapi fitrah. Layaknya orang tua yang secara fitrah mencintai anaknya, dengan segala kekurangannya. Senakal-nakalnya anak tersebut, pastinya seorang ibu selalu mengharapkan kebaikan baginya. Sebaik-baiknya anak orang lain, maka itu tetaplah anak orang lain yang tidak lebih dicintai daripada anaknya sendiri. Seorang ibu yang berpisah dengan anaknya, suatu saat akan merasakan kerinduan yang sangat besar. Jadi, inilah nasionalisme yang saya maksud. Nasionalisme bukanlah menganggap bagus apa yang jelek dan sebaliknya. Jika ada kekeliruan, hal itu sangatlah perlu dikoreksi, bukan dibiarkan apalagi dibela. Bagaimanapun, tanah air akan menjadi tempat anak cucu kita nanti, dan tentu kita menginginkan agar mereka tinggal di negeri yang baik dan meninggalkan sisi kelamnya.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *