Mengapa Hoax Sangat Mudah Tersebar Di Indonesia?

Dalam kehidupan sosial media, banyak sekali saya temukan berita bohong yang mampu mengubah pandangan orang terhadap sesuatu. Bahkan, bukan hanya pandangan, kebohongan bisa membuat orang-orang benar-benar melakukan aksi nyata. Yang saya soroti akhir-akhir ini adalah berita tentang penjarahan rumah anggota DPR seperti Uya Kuya, Ahmad Sahroni, Eko Patrio, dan lain-lain. Saya telusuri, mengapa semua ini bisa terjadi? Ternyata akar masalahnya adalah video mereka yang sedang joget-joget di dalam gedung DPR. Apakah hanya itu saja? Ternyata masih banyak lagi, mayoritas netizen mengira bahwa mereka joget-joget karena merayakan gaji DPR yang 3 juta per-hari. Selain itu, banyak berseliweran video lain yang di-framing seolah-olah mereka sedang menantang netizen, padahal itu adalah video beberapa tahun lalu yang diedit oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Berjoget-joget di gedung DPR bukanlah tindakan yang beradab, dan memang hal tersebut bisa melukai hati masyarakat. Namun, mengkait-kaitkan joget dengan kenaikan gaji ternyata adalah kebohongan sebagian orang yang dipercayai mayoritas masyarakat. Subhanallah, betapa mengerikan hidup di Indonesia dengan pola pikir masyarakat yang seperti ini. Ini hanyalah contoh kecil, banyak sekali contoh yang jauh lebih besar daripada ini, dan seolah-olah hal ini tidak pernah habis. Ini adalah alasan mengapa saya sudah muak mengikuti pemberitaan. Selain media yang memang hobi menggiring opini, masyarakat Indonesia yang terkenal malas membaca sangat mudah diprovokasi hanya dengan beberapa kata. Mereka tidak tertarik untuk fokus membaca dalam arti menambah wawasan, akan tetapi fokus membaca untuk mengomentari kehidupan orang lain. Bahkan, hobi mereka adalah mengkonsumsi berita hoax dan mereka bergulat dengan orang lain gara-gara berita hoax tersebut.

Saya pernah berdiskusi dengan seseorang tentang botnet, atau buzzer, dimana hal tersebut sangat lazim di Indonesia. Jasa buzzer sangat diminati oleh para politikus untuk melawan lawan politiknya, para pebisnis yang curang, dan para artis yang sedang berskandal. Aktivitas mereka sangat nyata di depan mata saya, hal ini bukanlah isapan jempol belaka. Mereka memiliki jasa buzzernya tersendiri yang dibayar dengan nominal tertentu, hanya untuk menggiring opini masyarakat. Yang menyedihkan, masyarakat yang real (bukan botnet) justru bertengkar satu sama lain karena ulah buzzer-buzzer ini. Para karyawan buzzer menggunakan mesin untuk berkomentar, dengan beberapa narasi yang sudah disiapkan. Mereka cukup menjalankan program atau script, dan boom, komentar masuk ke sosial media secara otomatis, membuat kegaduhan, lalu mereka lari. Mereka (para karyawan buzzer) sama sekali tidak merasakan emosi apapun, setiap komentar yang dikirim ada imbalannya. Yang kasihan adalah masyarakat yang termakan beberapa berita hoax tersebut.

Di satu sisi, selain ulah para buzzer, terkadang media juga sengaja membuat gaduh dengan memberikan judul berita yang bias dan menimbulkan spekulasi. Berikut saya berikan contohnya:

Saya membaca banyak komentar tentang berita ini, dan subhanallah, begitu mudah harga diri seseorang dihancurkan dengan penggalan judul seperti ini. Bahkan, saya baca penuh isi beritanya, sama sekali tidak menjelaskan kronologi aslinya bagaimana. Banyak sekali orang berkomentar dan mengolok-olok Ustadz Khalid dengan narasi sok suci, paham agama tapi makan duit haram, dan lain sebagainya. Seandainya saya ada di posisinya, hal tersebut sangatlah menyakitkan. Bagaimana bisa seseorang yang kesehariannya menjelaskan tentang halal dan haram kemudian terlibat dalam hal yang sangat menjijikan (korupsi), bukankah ini kemunafikan? Maksud saya, dengan beberapa penggal kata media mainstream tersebut, sudah cukup membuat masyarakat berspekulasi secara liar dan mengeluarkan isi pikiran mereka, tanpa takut adanya hisab.

Wajar jika masyakarat kita dinilai oleh dunia sebagai orang yang malas membaca. Bahkan, ada media yang jujur masih banyak yang tidak memahaminya. Jangankan membaca satu berita secara utuh, satu paragraf saja masih banyak yang malas membaca dan gagal memahaminya. Setelah adanya klarifikasi dari KPK, masih banyak orang yang gagal paham dan terus menuduh Ustadz Khalid terlibat skandal korupsi kuota haji. Menurut saya, hal ini sangat menyakitkan sekaligus sangat membuat miris, dan wajar sekali jika mereka terus-terusan bertengkar gara-gara rendahnya kualitas literasi. Melihat fenomena ini, kadang saya tertawa, kadang saya bersedih, kadang saya bingung mengapa seperti ini. Saya percaya Ustadz Khalid memiliki kesabaran yang luar biasa, dan segala sesuatu akan berlalu pada akhirnya dengan hasil yang terbaik.

Mengapa masyarakat begitu mudah diadu domba?

Ibu-ibu Lambe Turah

Banyak sekali orang tidak berpendidikan yang memang hobinya mengurusi hidup orang lain. Mereka sangat hobi berkomentar dan menyebarkan berita hoax jika ada skandal orang terkenal dan lain sebagainya. Saya mencoba melakukan penelitian, rata-rata memang karena kualitas hidup mereka yang cukup rendah, dan mereka merasa senang jika ada orang di atas mereka tergelincir. Pernah saya temukan ibu-ibu yang disidak karena memviralkan dan mengurusi kehidupan keluarga selebgram, sampai-sampai selebgram tersebut malu. Jika ditelusuri, hubungan ibu-ibu tersebut dengan suaminya ternyata sangat buruk, tinggal di tempat yang kumuh, dan minim kegiatan yang bermanfaat. Bahkan menurut suaminya dia tidak bisa mengurus anak dan suaminya dengan baik. Ibu tersebut datang bersama suaminya karena akan dipidanakan, akan tetapi suaminya memohon maaf dan memarahi ibu tersebut agar memohon maaf.

Bukan maksud saya merendahkan orang yang tinggal di tempat kumuh, namun memang jarang ditemukan orang-orang yang memiliki kesibukan seperti bisnis, atau orang menengah ke atas mengurusi kehidupan orang lain sampai rela berlarut-larut dengan hoax. Orang-orang menengah ke atas sibuk meningkatkan kualitas hidup mereka daripada banyak menghabiskan waktu mengurus hoax dan kehidupan orang lain. Jadi, wajar, acara gosip adalah acara yang paling disukai ibu-ibu kalangan menengah ke bawah karena minimnya kegiatan bermanfaat.

Konten Kreator

Yang semakin menyakitkan, mereka terkadang membuat akun pro dan sengaja memberitakan kontroversi demi menaikkan rating sosial medianya. Mereka menggunakan nama-nama palsu, memprovokasi orang lain dengan berita-berita artis yang mereka tambah-tambahi sendiri. Motivasi mereka murni uang, karena di Facebook Pro mereka bisa mendapatkan hal tersebut. Tidak peduli jika konten mereka berupa kebohongan, ghibah, atau merusak kehormatan orang lain. Misalnya, ketika ada berita tentang Ridwan Kamil, banyak saya temukan berita aneh tentang beliau padahal kebenaran belum terbukti sama sekali. Namun masyarakat sudah terlanjur berspekulasi dan menjatuhkan harga diri Ridwan Kamil.

Padahal, bagi seorang muslim sangatlah sederhana. Jika ada berita, maka harus periksa dahulu kebenarannya, apalagi berita terkait dengan perzinaan. Jika kita menuduh seseorang telah berzina, maka dosanya sangat besar, apalagi tanpa bukti apapun hanya isu-isu yang simpang siur.

Beda Pandangan

Salah satu sebab pertikaian adalah beda pandangan soal politik, cara beragama, atau hal lainnya seperti beda pilih klub idola. Orang yang beda pandangan soal politik, seburuk apapun pilihannya, akan dianggap sebagai malaikat yang tidak pernah salah. Sebaik apapun lawannya, akan dianggap sebagai iblis yang tidak pernah benar. Mereka berputar-putar di atas itu semua, dan rela bertengkar membela junjungannya. Begitu juga beda pemahaman, misalnya antara NU dan Salafi. Karena kebencian sebagian masyarakat NU terhadap Ustadz Khalid, mereka senang jika ada keterkaitan Ustadz akan korupsi ini dan mencari celah untuk menghina Ustadz Khalid. Perbedaan pandangan ini sifatnya sangatlah subjektif, dan sangat sulit untuk menjadi objektif. Inilah mengapa Indonesia selalu gaduh bertahun-tahun.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *