Salah satu impian hampir semua orang adalah jadi populer, jadi pusat perhatian, dan dibicarakan oleh orang lain. Ini adalah fitrah manusia, semakin dikenal, maka semakin VALID bahwa dirinya hebat. Sejak SD-pun banyak yang ingin terlihat menonjol. Mulai ingin dikenal sebagai si ranking satu, si paling jago bola, si paling jago nyanyi, dan lain sebagainya. Jadi, saya tidak menyangkal bahwa popularitas itu memang se-asyik itu. Buktinya, seseorang akan semakin senang ketika followersnya terus naik, postingannya dilike dan dikomentari, dan karya-karyanya dikagumi. Karena ingin populer, banyak orang berusaha membuat prestasi dan sensasi lalu dipublikasi. Ada yang hanya bermodal wajah yang rupawan, ada juga dengan kerja keras seperti membuat konten-konten hiburan dan yang lainnya.
Jika popularitas dijadikan ambisi, maka itu sangat berbahaya. Saya sering berinteraksi dengan beberapa orang terkenal, bahkan saya perhatikan kehidupan mereka di keramaian. Sedikit-sedikit ada yang merekam diam-diam, sedikit-sedikit ada yang menyapa, sedikit-sedikit ada yang minta tanda tangan. Kalau si orang terkenal itu mengabaikan orang-orang yang mengganggunya, maka ini akan menjadi pemberitaan buruk. Saya menilai bahwa privasi orang yang terkenal sangatlah terancam, khususnya di tempat umum. Eits, tapi hal tersebut terjadi jika orang tersebut memang sangat terkenal seperti selebriti yang muncul di TV.
Hal inilah yang menjadikan saya “ogah” untuk menjadi terkenal, apapun alasannya, termasuk uang. Bagi saya, mendapatkan banyak uang tidak harus menjadi terkenal, ada banyak cara lain yang lebih bisa menjaga privasi saya. Saya ingin bisa dengan bebas makan bubur di pinggir jalan, masuk Indomaret hanya dengan kaos, dan saya tidak ingin ada orang yang harus mengawal saya. Dari kecil, saya sudah memikirkan hal ini, dan saya akan terus memperjuangkannya. Seandainya beberapa kesempatan untuk jadi populer itu datang, maka dengan senang hati akan saya hindari sejauh-jauhnya.
Beberapa orang terkenal yang saya kenal cukup mengerikan. Sebagai selegram, banyak sekali kehidupannya diatur oleh netizen. Bayangkan, dia sering gelisah ketika ada komentar negatif tentangnya, tidak terima jika ada orang lain lebih hebat darinya, dan tidak terima jika ternyata respon netizen biasa-biasa saja terhadap aktivitas terbarunya. Bahkan, terkadang keputusannya seringkali tergantung senang tidaknya netizen. Jika dia mengambil suatu keputusan, maka dia berpikir, “nanti folllowers saya komentar apa?”. Padahal keputusan itu adalah yang terbaik baginya, namun tidak dieksekusi karena netizen tidak suka. Jika keadaan semakin parah, anggap saja seluruh netizen mencacinya, maka pendiriannya pun berubah. Seandainya keputusan tersebut hanyalah berkaitan dengan kehidupan pribadinya, maka itu tidak begitu masalah. Namun ada sebagian orang yang rela membuang agamanya karena keseringan membaca komentar netizen. Mengerikan, bukan?

Leave a Reply